IPB Tekankan Pentingnya Manajemen Pembibitan untuk Menghasilkan Domba Unggul di Jonggol

Bogor, 11 September 2026 – Pengembangan domba unggul di tingkat peternakan rakyat membutuhkan manajemen pembibitan yang terencana dan dilakukan secara konsisten dari generasi ke generasi. Hal tersebut disampaikan Dr. Muhamad Baihaqi, Ketua Tim Dosen Pulang Kampung IPB 2026, dalam kegiatan pelatihan bersama 25 anggota Kelompok Ternak Sari Berkah di Jonggol, Kabupaten Bogor.


Kegiatan tersebut mengangkat tema “Inovasi Pemuliaan Berbasis Komunitas dan Nutrisi Presisi dalam Mendukung Pembentukan Domba Unggul di Jonggol” sebagai upaya mendorong kelompok peternak membangun sistem pembibitan yang mampu menghasilkan ternak berkualitas sekaligus sesuai dengan kondisi peternakan setempat.

Menurut Baihaqi, pembibitan berbeda dengan sekadar memperbanyak populasi. Dalam pembibitan, setiap perkawinan harus mempunyai tujuan yang jelas sehingga kualitas generasi berikutnya diharapkan lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. “Domba unggul tidak terbentuk dalam satu generasi. Kita harus mengetahui induk dan pejantan yang digunakan, mencatat performanya, mengatur perkawinan, mengevaluasi anak yang dihasilkan, kemudian memilih kembali ternak terbaik sebagai calon bibit generasi berikutnya,” jelas Baihaqi.


Peternak Menjadi Pelaku Utama Pemuliaan. Menurut Baihaqi, pendekatan pemuliaan berbasis komunitas (community-based breeding) sesuai dikembangkan pada peternakan rakyat. Peternak dalam satu kelompok dapat menyepakati tujuan pembibitan dan kriteria ternak yang ingin dikembangkan, kemudian melakukan seleksi dan pengaturan perkawinan secara bersama-sama. Rekording menjadi bagian penting dalam sistem tersebut. Pencatatan identitas dan silsilah, bobot lahir dan sapih, pertumbuhan, performa reproduksi, hingga riwayat perkawinan memungkinkan peternak memilih calon induk dan pejantan berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan penampilan fisik. Rekording juga membantu menghindari perkawinan antarternak yang memiliki hubungan kekerabatan dekat.


“Kalau peternak tidak mempunyai data, sulit mengetahui apakah produktivitas ternaknya benar-benar mengalami kemajuan. Rekording sederhana tetapi konsisten akan menjadi dasar seleksi dan pengambilan keputusan pembibitan,” tambah Baihaqi.
Manajemen pembibitan juga harus didukung oleh nutrisi dan ketersediaan pakan yang memadai. Ternak dengan potensi genetik yang baik hanya dapat menunjukkan produktivitas optimal apabila kebutuhan nutrisinya terpenuhi, terutama pada fase pertumbuhan, menjelang perkawinan, kebuntingan, menyusui, dan perkembangan anak.


Karena itu, kegiatan Dosen Pulang Kampung IPB 2026 mengintegrasikan beberapa aspek penting pembibitan. Peternak memperoleh penguatan mengenai rekording dan seleksi ternak, strategi nutrisi untuk mendukung reproduksi, serta pengelolaan hijauan pakan yang berkelanjutan. Baihaqi berharap Kelompok Ternak Sari Berkah dapat secara bertahap membangun populasi pembibitan milik komunitas, dengan tujuan dan kriteria seleksi yang disepakati bersama serta didukung sistem rekording yang berkelanjutan. “Harapannya, peternak Jonggol tidak hanya menghasilkan domba dalam jumlah lebih banyak, tetapi mampu menghasilkan bibit yang semakin baik dari generasi ke generasi. Pada akhirnya, kelompok dapat memiliki sumber bibit unggul yang dibangun dan dikembangkan dari populasinya sendiri,” pungkas Baihaqi.


Program Dosen Pulang Kampung IPB 2026 di Jonggol diharapkan menjadi langkah awal membangun model pembibitan domba berbasis komunitas yang mengintegrasikan genetik, rekording, reproduksi, nutrisi, dan sumber daya pakan, sehingga peningkatan produktivitas ternak dapat berjalan secara terarah dan berkelanjutan.