Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Ternak Cikarawang Didorong untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan
BOGOR 30 AGUSTUS, JAWA BARAT — Penguatan kelembagaan kelompok menjadi salah satu kunci penting dalam meningkatkan keberlanjutan kegiatan pertanian dan peternakan masyarakat Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan penyuluhan kelembagaan kelompok tani ternak yang dilaksanakan melalui program hibah Pengabdian Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2026.
Program yang diketuai Dr. Asep Tata tersebut mengusung tema utama “Peningkatan Kesuburan Lahan melalui Inovasi Pupuk Hayati Mikoriza dan Pupuk Organik untuk Meningkatkan Produksi Rumput Gajah Pakchong sebagai Hijauan Pakan Ternak.” Dalam rangkaian kegiatan tersebut, penguatan kelembagaan disampaikan oleh Dr. Sigid Prabowo sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas penerima manfaat dalam mengelola potensi pertanian dan peternakan secara lebih terorganisasi.
Dalam penyuluhan tersebut, peserta didorong untuk memahami bahwa keberadaan kelompok tani ternak tidak sekadar menjadi wadah berkumpul, tetapi juga merupakan instrumen penting untuk membangun sistem usaha yang lebih sistematis, praktis, ekonomis, dan berkelanjutan.
Menurut Dr. Sigid, sebagian penerima manfaat masih belum sepenuhnya memahami pentingnya membangun kelembagaan yang efektif. Padahal, kelembagaan yang kuat dapat membantu kelompok menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kegiatan usaha, mulai dari proses produksi, pemasaran hasil, pengelolaan sarana produksi, hingga penanganan limbah.
“Penguatan kelembagaan berbasis kelompok diperlukan agar berbagai kegiatan dapat dilakukan secara lebih terarah. Dengan bekerja secara berkelompok, persoalan yang dihadapi dapat dibahas bersama dan dicarikan solusi secara lebih sistematis,” ujar Dr. Sigid dalam kegiatan penyuluhan.
Dari Produksi hingga Pengelolaan Limbah
Diskusi dalam kegiatan tersebut juga membahas berbagai kendala dan dinamika yang dihadapi penerima manfaat dalam menjalankan kegiatan pertanian dan peternakan. Persoalan tidak hanya berada pada aspek produksi, tetapi juga menyangkut akses pasar dan pengelolaan limbah.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah pemanfaatan limbah organik melalui pengolahan bokashi. Pendekatan tersebut dinilai memiliki relevansi dengan kebutuhan kelompok karena dapat menjadi bagian dari solusi pengelolaan limbah sekaligus mendukung perbaikan kualitas lahan.
Kegiatan pertanian dan peternakan di tingkat masyarakat memiliki potensi menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi menimbulkan persoalan sosial maupun lingkungan. Sebaliknya, melalui pengelolaan yang tepat, limbah dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna bagi kegiatan pertanian.
Pemanfaatan limbah organik juga sejalan dengan semangat membangun sistem pertanian yang lebih sirkular, yakni mengupayakan agar sumber daya yang dihasilkan dari satu kegiatan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lainnya.

Kesuburan Lahan Menjadi Perhatian
Selain aspek kelembagaan, penyuluhan juga menekankan pentingnya optimalisasi kesuburan lahan sebagai fondasi peningkatan produksi pertanian dalam arti luas, termasuk produksi hijauan pakan ternak.
Rendahnya tingkat kesuburan lahan menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapatkan perhatian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kandungan karbon organik tanah (C-organik) melalui pemanfaatan bahan organik dan inovasi pupuk yang sesuai dengan kebutuhan lahan.
Hal tersebut memiliki keterkaitan erat dengan tema utama program Dospulkam 2026 yang diketuai Dr. Asep Tata, khususnya dalam pengembangan pupuk hayati mikoriza dan pupuk organik untuk mendukung peningkatan produksi rumput gajah Pakchong sebagai sumber hijauan pakan ternak.
Dengan demikian, penguatan kelembagaan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pengembangan pertanian dan peternakan yang mencakup aspek sumber daya manusia, teknologi produksi, kesuburan tanah, pemanfaatan limbah, hingga keberlanjutan usaha kelompok.

Kelompok sebagai Ruang Belajar Berkelanjutan
Dalam penyuluhan tersebut juga ditekankan bahwa peningkatan kapasitas kelembagaan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Kelompok tani ternak diharapkan tidak hanya bergantung pada kegiatan pendampingan dari pihak luar, tetapi mampu membangun tradisi belajar dan evaluasi secara internal.
Pertemuan rutin antaranggotanya dapat menjadi ruang untuk mengevaluasi kegiatan, mengidentifikasi kendala, membagi pengalaman, serta menyusun solusi bersama. Pada saat yang sama, keterlibatan pakar dan tenaga pendamping dapat memperkaya pengetahuan kelompok, terutama dalam menghadapi persoalan teknis yang membutuhkan kompetensi khusus.
Peningkatan keterampilan melalui pelatihan juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Program Dospulkam dapat menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan, pendampingan, dan penerapan inovasi.
Penguatan kelembagaan diharapkan pada akhirnya mampu membangun kelompok tani ternak yang lebih mandiri dalam mengelola sumber daya, meningkatkan produktivitas, memanfaatkan limbah, serta mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Bagi masyarakat Desa Cikarawang, penguatan kelembagaan tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan berbagai inovasi yang diperkenalkan melalui program Dospulkam 2026 tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan semata, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan menjadi praktik yang memberikan manfaat nyata bagi kelompok dan lingkungan sekitar.




