Dosen IPTP IPB University Perkuat Kelembagaan Peternak Rakyat melalui Sertifikasi SASPRI Kawasan di Kabupaten Pemalang

Tim dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) IPB University, Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA, IPU dan Dr. Afton Attabany, M.Si., bersama mahasiswa Mauliza Alfirani, S.Pt., serta perwakilan PALAKKURI Kawasan Nanggung, Muhammad Fikri, melaksanakan Sertifikasi SASPRI Kawasan Tahap 2 Tahun 2026 di Kabupaten Pemalang pada 22-23 Agustus 2026. Kegiatan ini menyasar tiga kawasan sekaligus, yaitu Kawasan Pemalang, Kawasan Belik, dan Kawasan Warungpring, sebagai bagian dari rangkaian pendampingan berkelanjutan IPB University terhadap komunitas peternak rakyat binaan.
Transformasi Bertahap dari SPR Menuju SASPRI
Sertifikasi SASPRI Kawasan bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan satu titik dalam proses transformasi bertahap yang terstruktur dan berkelanjutan. Tahapan ini dimulai dari penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui Sekolah PeternakTim dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) IPB University, Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA, IPU dan Dr. Afton Attabany, M.Si., bersama mahasiswa Mauliza Alfirani, S.Pt., serta perwakilan PALAKKURI Kawasan Nanggung, Muhammad Fikri, melaksanakan Sertifikasi SASPRI Kawasan Tahap 2 Tahun 2026 di Kabupaten Pemalang pada 22-23 Agustus 2026. Kegiatan ini menyasar tiga kawasan sekaligus, yaitu Kawasan Pemalang, Kawasan Belik, dan Kawasan Warungpring, sebagai bagian dari rangkaian pendampingan berkelanjutan IPB University terhadap komunitas peternak rakyat binaan.
Transformasi Bertahap dari SPR Menuju SASPRI
Sertifikasi SASPRI Kawasan bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan satu titik dalam proses transformasi bertahap yang terstruktur dan berkelanjutan. Tahapan ini dimulai dari penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) sebagai fondasi utama, tempat peternak dibekali perubahan pola pikir dari usaha individual menuju usaha kolektif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Setelah fondasi tersebut terbentuk, proses berlanjut pada konsolidasi kelembagaan melalui Solidaritas Alumni Sekolah Peternakan Rakyat Indonesia (SASPRI), yang berfungsi memperkuat kerja kolektif antaralumni SPR di tingkat kawasan.
Melalui konsolidasi inilah SASPRI-Kawasan terbentuk sebagai kelembagaan komunitas peternak rakyat yang kuat dan fungsional. Untuk memastikan kualitas kelembagaan tersebut terjaga dan terus berkembang, disusunlah sistem Sertifikasi SASPRI Kawasan sebagai instrumen evaluasi dan pembinaan yang terstandarisasi. Sertifikasi ini mencakup tiga mekanisme berjenjang, yakni evaluasi diri oleh pengurus kawasan, verifikasi oleh tim sebaya antarkawasan, dan penilaian akhir di tingkat nasional. Ketiga mekanisme ini dirancang agar penilaian tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mencerminkan kondisi riil di lapangan serta mendorong pembelajaran antarkawasan. Dengan pendekatan ini, sertifikasi diharapkan menjadi pengungkit bagi kawasan untuk terus bergerak dari tahap pembentukan, pengembangan, hingga pemantapan organisasi, sehingga tata kelolanya semakin terstruktur, transparan, dan akuntabel sebagai fondasi usaha kolektif berbasis komunitas.

Sertifikasi Kawasan Pemalang: Evaluasi Dinamika dan Arahan Kolektif
Rangkaian kegiatan dimulai pada 22 Agustus 2026, pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, dengan sertifikasi Kawasan Pemalang. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh pengurus kawasan serta wali pratama Kabupaten Pemalang, Lutfil Hakim, yang berasal dari Kawasan Taman dan membawahi lima kawasan wilayah amanah, yaitu Taman, Belik, Pemalang, Warungpring, dan Pulosari. Kawasan Taman sendiri telah lebih dulu menuntaskan sertifikasi tahap pertama, sehingga wali pratama memiliki pengalaman langsung dalam mendampingi proses serupa di kawasan lain.
Dalam forum tersebut, para pengurus memaparkan kondisi lapangan, dinamika kepengurusan, serta berbagai kegiatan SASPRI yang telah dan sedang berjalan di kawasan masing-masing. Wali pratama turut menyampaikan gambaran menyeluruh atas kelima kawasan di bawah wilayah amanahnya: empat kawasan berjalan aktif, sementara satu kawasan masih dalam proses restrukturisasi akibat dinamika internal. Ia juga menyampaikan antusiasme kawasan terhadap peluang kemitraan dengan pihak eksternal, termasuk potensi program pengembangan 30.000 ekor sapi perah di Kabupaten Brebes, yang dinilai dapat berdampak positif bagi kawasan, salah satunya melalui kontribusi penyediaan kebutuhan pakan.
Menanggapi paparan tersebut, Prof. Muladno menyatakan dukungan penuh terhadap rencana kerja kawasan dan menegaskan pentingnya memastikan bahwa setiap kegiatan yang dijalankan kawasan, dalam bentuk apa pun, merupakan wujud nyata dari konsolidasi komunitas rakyat, bukan sekadar aktivitas usaha yang berjalan sendiri-sendiri tanpa keterhubungan kelembagaan. Sejalan dengan arahan tersebut, Dr. Afton Attabany memberikan penguatan pengetahuan ilmiah terkait manajemen dan mutu pakan, sebagai bekal teknis yang relevan bagi kawasan dalam mengembangkan skala usaha ternak secara lebih efisien dan berkelanjutan, sekaligus menjawab peluang kemitraan pakan yang tengah terbuka.
Kunjungan ke Kawasan Belik: Produk Hilir sebagai Bukti Konkret
Usai kegiatan sertifikasi di Pemalang, tim melanjutkan kunjungan ke Kawasan Belik pada pukul 13.00 hingga 16.00 WIB di hari yang sama. Para pengurus Kawasan Belik menyambut dengan antusias dan menunjukkan langsung produk yang telah mereka kembangkan selama ini. Di sektor hulu, kawasan ini telah menjalankan pengelolaan dan pemeliharaan ternak secara bersama sebagai wujud usaha kolektif. Di sektor hilir, kawasan ini pernah mengembangkan produk turunan berupa sabun susu, dan hingga saat ini rumah produksi untuk mengolah produk tersebut masih berdiri dan berpotensi untuk diaktifkan kembali secara lebih optimal.
Kunjungan ke Kawasan Belik ini memperlihatkan bahwa proses konsolidasi kelembagaan yang didorong melalui SPR dan SASPRI tidak berhenti pada penguatan organisasi semata, tetapi juga mendorong kawasan untuk mulai merambah diversifikasi usaha di sektor hilir peternakan.
Kunjungan ke Kawasan Warungpring: Sinergi dengan BUMDes dan Koperasi
Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Kawasan Warungpring pada 23 Agustus 2026, pukul 10.00 hingga 15.00 WIB. Berbeda dari dua kawasan sebelumnya, forum di Warungpring dihadiri oleh lebih banyak pemangku kepentingan eksternal, yaitu perwakilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan perwakilan koperasi perikanan dengan perwakilan Pak Shodikin. Antusiasme pengurus dan mitra eksternal yang hadir tampak menonjol sepanjang diskusi, dengan pembahasan yang beraneka ragam dan mewakili kondisi riil kawasan.
Dalam forum tersebut, pihak BUMDes menyatakan kesediaannya untuk menjalin kerja sama dan mendukung kegiatan bisnis kolektif Kawasan Warungpring. Sikap serupa juga disampaikan secara positif oleh perwakilan koperasi, yang turut membuka peluang sinergi dengan usaha kolektif kawasan. Tanggapan ini kemudian direspons secara positif oleh Prof. Muladno dan Dr. Afton Attabany, yang melihat keterlibatan BUMDes dan koperasi sebagai indikasi bahwa model bisnis kolektif berjamaah mulai mendapatkan pengakuan dan dukungan dari struktur ekonomi desa yang sudah ada.
Menuju Konsolidasi Peternak Rakyat yang Berkelanjutan
Rangkaian Sertifikasi SASPRI Kawasan Tahap 2 di Kabupaten Pemalang ini menggambarkan bagaimana peran perguruan tinggi tidak berhenti pada tahap pembelajaran di SPR, tetapi terus berlanjut melalui pendampingan kelembagaan jangka panjang bersama SASPRI. Ketiga kawasan yang disertifikasi menunjukkan wajah yang berbeda-beda: Pemalang dengan dinamika internal yang tengah dikonsolidasikan, Belik dengan potensi diversifikasi usaha hilir yang siap diaktifkan kembali, dan Warungpring dengan modal sosial dan sinergi eksternal yang sudah mulai terbangun bersama BUMDes dan koperasi.
Keberagaman kondisi ini justru memperkuat relevansi sistem sertifikasi berjenjang sebagai instrumen pembinaan yang adaptif terhadap karakteristik masing-masing kawasan. Dukungan aktif dari pemerintah desa dan koperasi setempat diharapkan menjadi modal awal bagi kawasan untuk terus memperkuat tata kelola organisasi, sekaligus memperluas jejaring kemitraan usaha ke depan, sejalan dengan semangat SASPRI sebagai wadah konsolidasi peternak rakyat menuju usaha kolektif yang mandiri, profesional, dan berkelanjutan

an Rakyat (SPR) sebagai fondasi utama, tempat peternak dibekali perubahan pola pikir dari usaha individual menuju usaha kolektif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Setelah fondasi tersebut terbentuk, proses berlanjut pada konsolidasi kelembagaan melalui Solidaritas Alumni Sekolah Peternakan Rakyat Indonesia (SASPRI), yang berfungsi memperkuat kerja kolektif antaralumni SPR di tingkat kawasan.
Melalui konsolidasi inilah SASPRI-Kawasan terbentuk sebagai kelembagaan komunitas peternak rakyat yang kuat dan fungsional. Untuk memastikan kualitas kelembagaan tersebut terjaga dan terus berkembang, disusunlah sistem Sertifikasi SASPRI Kawasan sebagai instrumen evaluasi dan pembinaan yang terstandarisasi. Sertifikasi ini mencakup tiga mekanisme berjenjang, yakni evaluasi diri oleh pengurus kawasan, verifikasi oleh tim sebaya antarkawasan, dan penilaian akhir di tingkat nasional. Ketiga mekanisme ini dirancang agar penilaian tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mencerminkan kondisi riil di lapangan serta mendorong pembelajaran antarkawasan. Dengan pendekatan ini, sertifikasi diharapkan menjadi pengungkit bagi kawasan untuk terus bergerak dari tahap pembentukan, pengembangan, hingga pemantapan organisasi, sehingga tata kelolanya semakin terstruktur, transparan, dan akuntabel sebagai fondasi usaha kolektif berbasis komunitas.

Sertifikasi Kawasan Pemalang: Evaluasi Dinamika dan Arahan Kolektif
Rangkaian kegiatan dimulai pada 22 Agustus 2026, pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, dengan sertifikasi Kawasan Pemalang. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh pengurus kawasan serta wali pratama Kabupaten Pemalang, Lutfil Hakim, yang berasal dari Kawasan Taman dan membawahi lima kawasan wilayah amanah, yaitu Taman, Belik, Pemalang, Warungpring, dan Pulosari. Kawasan Taman sendiri telah lebih dulu menuntaskan sertifikasi tahap pertama, sehingga wali pratama memiliki pengalaman langsung dalam mendampingi proses serupa di kawasan lain.
Dalam forum tersebut, para pengurus memaparkan kondisi lapangan, dinamika kepengurusan, serta berbagai kegiatan SASPRI yang telah dan sedang berjalan di kawasan masing-masing. Wali pratama turut menyampaikan gambaran menyeluruh atas kelima kawasan di bawah wilayah amanahnya: empat kawasan berjalan aktif, sementara satu kawasan masih dalam proses restrukturisasi akibat dinamika internal. Ia juga menyampaikan antusiasme kawasan terhadap peluang kemitraan dengan pihak eksternal, termasuk potensi program pengembangan 30.000 ekor sapi perah di Kabupaten Brebes, yang dinilai dapat berdampak positif bagi kawasan, salah satunya melalui kontribusi penyediaan kebutuhan pakan.
Menanggapi paparan tersebut, Prof. Muladno menyatakan dukungan penuh terhadap rencana kerja kawasan dan menegaskan pentingnya memastikan bahwa setiap kegiatan yang dijalankan kawasan, dalam bentuk apa pun, merupakan wujud nyata dari konsolidasi komunitas rakyat, bukan sekadar aktivitas usaha yang berjalan sendiri-sendiri tanpa keterhubungan kelembagaan. Sejalan dengan arahan tersebut, Dr. Afton Attabany memberikan penguatan pengetahuan ilmiah terkait manajemen dan mutu pakan, sebagai bekal teknis yang relevan bagi kawasan dalam mengembangkan skala usaha ternak secara lebih efisien dan berkelanjutan, sekaligus menjawab peluang kemitraan pakan yang tengah terbuka.
Kunjungan ke Kawasan Belik: Produk Hilir sebagai Bukti Konkret
Usai kegiatan sertifikasi di Pemalang, tim melanjutkan kunjungan ke Kawasan Belik pada pukul 13.00 hingga 16.00 WIB di hari yang sama. Para pengurus Kawasan Belik menyambut dengan antusias dan menunjukkan langsung produk yang telah mereka kembangkan selama ini. Di sektor hulu, kawasan ini telah menjalankan pengelolaan dan pemeliharaan ternak secara bersama sebagai wujud usaha kolektif. Di sektor hilir, kawasan ini pernah mengembangkan produk turunan berupa sabun susu, dan hingga saat ini rumah produksi untuk mengolah produk tersebut masih berdiri dan berpotensi untuk diaktifkan kembali secara lebih optimal.
Kunjungan ke Kawasan Belik ini memperlihatkan bahwa proses konsolidasi kelembagaan yang didorong melalui SPR dan SASPRI tidak berhenti pada penguatan organisasi semata, tetapi juga mendorong kawasan untuk mulai merambah diversifikasi usaha di sektor hilir peternakan.
Kunjungan ke Kawasan Warungpring: Sinergi dengan BUMDes dan Koperasi
Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Kawasan Warungpring pada 23 Agustus 2026, pukul 10.00 hingga 15.00 WIB. Berbeda dari dua kawasan sebelumnya, forum di Warungpring dihadiri oleh lebih banyak pemangku kepentingan eksternal, yaitu perwakilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan perwakilan koperasi perikanan dengan perwakilan Pak Shodikin. Antusiasme pengurus dan mitra eksternal yang hadir tampak menonjol sepanjang diskusi, dengan pembahasan yang beraneka ragam dan mewakili kondisi riil kawasan.
Dalam forum tersebut, pihak BUMDes menyatakan kesediaannya untuk menjalin kerja sama dan mendukung kegiatan bisnis kolektif Kawasan Warungpring. Sikap serupa juga disampaikan secara positif oleh perwakilan koperasi, yang turut membuka peluang sinergi dengan usaha kolektif kawasan. Tanggapan ini kemudian direspons secara positif oleh Prof. Muladno dan Dr. Afton Attabany, yang melihat keterlibatan BUMDes dan koperasi sebagai indikasi bahwa model bisnis kolektif berjamaah mulai mendapatkan pengakuan dan dukungan dari struktur ekonomi desa yang sudah ada.
Menuju Konsolidasi Peternak Rakyat yang Berkelanjutan
Rangkaian Sertifikasi SASPRI Kawasan Tahap 2 di Kabupaten Pemalang ini menggambarkan bagaimana peran perguruan tinggi tidak berhenti pada tahap pembelajaran di SPR, tetapi terus berlanjut melalui pendampingan kelembagaan jangka panjang bersama SASPRI. Ketiga kawasan yang disertifikasi menunjukkan wajah yang berbeda-beda: Pemalang dengan dinamika internal yang tengah dikonsolidasikan, Belik dengan potensi diversifikasi usaha hilir yang siap diaktifkan kembali, dan Warungpring dengan modal sosial dan sinergi eksternal yang sudah mulai terbangun bersama BUMDes dan koperasi.
Keberagaman kondisi ini justru memperkuat relevansi sistem sertifikasi berjenjang sebagai instrumen pembinaan yang adaptif terhadap karakteristik masing-masing kawasan. Dukungan aktif dari pemerintah desa dan koperasi setempat diharapkan menjadi modal awal bagi kawasan untuk terus memperkuat tata kelola organisasi, sekaligus memperluas jejaring kemitraan usaha ke depan, sejalan dengan semangat SASPRI sebagai wadah konsolidasi peternak rakyat menuju usaha kolektif yang mandiri, profesional, dan berkelanjutan