Prof Ronny Rachman Noor: Daging Buatan Legal di Amerika, Bagaimana dengan Indonesia?

Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa teknologi merupakan kunci dari pemenuhan pangan dunia, utamanya pada saat populasi dunia meningkat secara tajam di tahun 2050 mendatang.

Salah satu teknologi yang menarik perhatian dunia adalah teknologi daging buatan, di mana daging bukan lagi dihasilkan dari beternak sapi, kambing, kerbau, ayam dan hewan lainnya, melainkan dikembangkan sepenuhnya di laboratorium.

Menurut Prof Ronny Rachman Noor, Pakar Genetik IPB University, pemikiran dan konsep yang mendasari daging buatan ini memang cukup logis. Hal itu mengingat peternakan sapi misalnya, berkontribusi sekitar 40 persen dari deforestasi dunia yang terjadi saat ini. Di samping itu, menurut Our World Data dan World Health Organization (WHO), peternakan juga berkontribusi gas rumah kaca dunia sebesar 14,5 persen.

“Berbagai teknologi peternakan modern saat ini memang telah berhasil mengurangi laju deforestasi dan juga emisi gas rumah kaca. Namun, upaya ini tentunya perlu dikombinasikan dengan teknologi lainnya seperti misalnya teknologi daging buatan,” ujar Prof Ronny.

Belum lama ini, Amerika Serikat melalui United States Department of Agriculture (USDA) telah mengeluarkan persetujuan penjualan daging buatan. Persetujuan ini mencatatkan Amerika sebagai negara kedua di dunia setelah sebelumnya Singapura tercatat sebagai negara pertama yang menyetujuinya.

Di samping itu, menurut Prof Ronny Noor, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) juga telah mengeluarkan pernyataan bahwa setelah melakukan pemeriksaan proses pembuatan dan produknya, daging buatan ini aman untuk dikonsumsi.

“Era daging buatan in merupakan era baru dalam dunia peternakan, karena berbagai produk yang akan dihasilkan dari teknologi buatan ini, baik dari segi bentuk fisik, aroma, estetika dan rasanya hampir sama dengan daging alami yang diproduksi dari ternak,” ujar Prof Ronny.

“Selain itu, teknologi daging buatan ini tentunya memberikan alternatif untuk menghasilkan daging yang lebih ramah lingkungan dan lebih manusiawi dan juga menjadi alternatif bagi kelompok vegetarian yang tidak puas dengan produk vegetarian yang sudah ada di pasaran,” lanjutnya.

Lebih jauh ia mengurai, secara garis besar pembuatan daging buatan dimulai dengan pengambilan sampel jaringan hewan. Sampel tersebut disaring dan ditumbuhkan untuk dijadikan bank sel yang nantinya akan digunakan pada proses selanjutnya.

Pada lingkungan yang terkendali, sel-sel ini dimasukkan ke dalam kontainer tertutup untuk dikembang biakkan dengan menambahkan nutrisi dan bahan esensial lainnya untuk pertumbuhan dan perkembangan sel.

Dalam kondisi dan lingkungan yang terkontrol seperti ini, sel akan berkembang dalam jumlah triliunan. Selanjutnya, dengan teknologi diferensiasi, sel ini akan melakukan diferensiasi yang nantinya akan membentuk sel otot, lemak dan jaringan ikat.

“Melalui teknologi ini, maka sel akan tumbuh dan melakukan diferensiasi dan membentuk jenis daging yang diinginkan untuk diproduksi dan dipasarkan,” sambung dia.

Menurut Prof Ronny, walaupun produk daging buatan ini memiliki rasa yang sama dengan daging tradisional yang dihasilkan dari ternak, tentunya keberhasilan pemasaran daging buatan ini akan sangat tergantung pada selera dan persepsi konsumen. Sebagai contoh di Amerika misalnya, jajak pendapat yang dilakukan menunjukkan bahwa 50 persen penduduk Amerika menyatakan tidak akan pernah mencoba daging buatan ini.

“Di Indonesia yang saat ini mulai mengalami keterbatasan lahan untuk peternakan komersial, teknologi daging buatan ini ke depan juga akan berkembang dan diperkirakan akan mengambil sebagian dari pangsa pasar daging alami. Meski tidak akan menggantikan sepenuhnya daging alami,” ujar Prof Ronny

“Persepsi, penerimaan konsumen dan harga yang lebih mahal diperkirakan akan menjadi kendala utama pemasaran daging buatan di Indonesia, di samping tentunya masalah yang paling krusial adalah kepastian kehalalan semua proses pembuatan daging buatan tersebut,” imbuh dia.

Prof Ronny menilai, sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah dunia peternakan, utamanya terkait pencemaran lingkungan, daging buatan ini tentunya bermanfaat. Hanya saja, ia memastikan bahwa hal itu tidak akan dapat menggantikan sepenuhnya daging alami. (ipb.ac.id)