Hadapi Era Revolusi Industri 4.0, Fapet IPB dan Kemin Industries Gelar Studium Generale

Era Revolusi Industri 4.0 dengan berbagai aspeknya membawa banyak perubahan paradigma dalam dunia peternakan yang memfokuskan pada kecepatan dan akurasi menuju efisiensi dan efektivitas. Penggunaan internet of thing (IoT) dengan integrasi data dan big data merupakan salah satu penciri era ini. Hal ini memberikan pengaruh besar terhadap industri pakan ternak. Selain itu, kebijakan larangan penggunaan Antibiotics Growth Promoter (AGP) dalam pakan ternak membawa dampak signifikan pada industri pakan dan aplikasinya.

Berdasarkan hal ini, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Kemin Industry dan JAPFA Foundation menggelar Studium Generale bertemakan “Recent Issues in Feed Technology and Animal Nutrition for Healthy and Safe Animal Products.” Acara ini digelar pada Rabu (19/9) di Kampus IPB Dramaga.

Dr. Rudi Afnan,Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan, Fakultas Peternakan IPB membuka acara ini. Dr. Rudi menyampaikan bahwa perubahan yang terjadi di dunia industri pakan ternak perlu direspon secara cepat dan tepat oleh dunia akademik, agar senantiasa selaras dengan perkembangan dunia industri untuk menghindarkan kesenjangan yang besar. “Dalam hal ini kami mengundang narasumber yang kompeten yaitu Kemin Industries. Kemin Industries bergerak dalam penyediaan dan pengolahan bahan pakan dan nutrisi ternak. Mereka memiliki teknologi terkini dan kapasitas untuk merespon perubahan paradigma dan orientasi dalam bahan pakan dan nutrisi ternak dengan tujuan menghasilkan produk ternak yang sehat dan aman untuk dikonsumsi manusia,” tambahnya. Pembicara dari Kemin Industries diantaranya Evelyn Chew (HR Manager), Dr. BoonFei Tan (Research Scientist), dan Dr. Joanne Ho (Platform Manager).

Dr. BoonFei menyampaikan bahwa penggunaan AGP pada ternak bisa memberikan dampak negatif seperti membunuh bakteri yang menguntungkan, mengganggu keseimbangan microbiome, memberikan efek penghambatan terhadap fagositosis oleh sel-sel inang, pengembangan resistensi, tidak adanya pertumbuhan mempromosikan efek pada hewan bebas kuman.

Sementara Dr. Joanne menyampaikan bahwa SmartFarmNet atau pertanian berbasis IoT memiliki banyak manfaat diantaranya mengotomatisasi koleksi lingkungan, tanah, pemupukan, dan irigasi data. “Selain itu, data bisa berkorelasi secara otomatis dan data yang invalid terfilter dari perspektif menilai kinerja tanaman. Dapat menghitung perkiraan tanaman dan mempersonalisasikan tanaman yang direkomendasikan untuk jenis pertanian tertentu.”

Kegiatan yang dihadiri dosen, Pranata Laboran Pendidikan, mahasiswa S1, S2, dan S3 Fakultas Peternakan IPB acara ini juga dihadiri olehDirektorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementerian Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Dinas Pertanian Kota Bogor, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, pelaku usaha bidang peternakan, asosiasi bidang peternakan, dan peserta umum.

Erlangga, salah seorang peserta acara menyampaikan bahwa melalui acara ini dirinya menjadi lebih tahu isu-isu terkini terkait bidang peternakan, terutama larangan dan bahaya dari penggunaan AGP. “Harapan saya ke depan acara-acara seperti ini bisa lebih disosialisasikan kepada para peternak, agar informasi ini bisa tersebar merata untuk semua kalangan,” katanya. (ipb.ac.id)