{"id":543,"date":"2018-05-24T07:19:27","date_gmt":"2018-05-24T00:19:27","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/htdocs\/2018\/05\/24\/peneliti-ipb-manfaatkan-limbah-keju-untuk-produksi-minuman\/"},"modified":"2018-05-24T07:19:27","modified_gmt":"2018-05-24T00:19:27","slug":"peneliti-ipb-manfaatkan-limbah-keju-untuk-produksi-minuman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/?p=543","title":{"rendered":"Peneliti IPB Manfaatkan Limbah Keju untuk Produksi Minuman"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"img-rectangle alignleft size-full wp-image-542\" src=\"http:\/\/localhost\/htdocs\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/peneliti-ipb-manfaatkan-limbah-keju-untuk-produksi-minuman-news.jpg\" border=\"0\" style=\"float: left; margin: 10px;\" width=\"360\" height=\"240\" srcset=\"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/peneliti-ipb-manfaatkan-limbah-keju-untuk-produksi-minuman-news.jpg 360w, https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/peneliti-ipb-manfaatkan-limbah-keju-untuk-produksi-minuman-news-300x200.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 360px) 100vw, 360px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Produksi keju di seluruh dunia umumnya menghasilkan\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>dalam jumlah yang besar. Tidak kurang dari 50% total\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>dari seluruh dunia diolah menjadi produk makanan dan minuman, sementara 50% lainnya terbuang menjadi limbah.\u00a0<em>Whey\u00a0<\/em>dianggap sebagai limbah dan tidak diproses sebagai produk turunan. Padahal\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>memiliki nutrisi yang masih tinggi yaitu 55% dari total nutrisi susu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>merupakan produk samping, namun\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>memiliki nilai nutrisi protein dan karbohidrat. Dan dapat dimanfaatkan dalam bidang pangan, pakan dan media pertumbuhan bakteri. Hal ini dikarenakan\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>masih mengandung 4-7% laktosa dan 0,6-1% protein.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Komponen nutrisi\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>ini dapat dimanfaatkan oleh bakteri sebagai sumber nutrisi pertumbuhan. Hal inilah yang mendasari peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Irma Isnafia Arief, dan Dr. Cahyo Budiman, beserta mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB<strong>,<\/strong>\u00a0Ikhsan Suhendro, melakukan sebuah penelitian. Mereka membuat minuman fermentasi dari starter\u00a0<em>Lactobacillus plantarum\u00a0<\/em>dan memanfaatkan\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>dari keju dan dangke sebagai media pertumbuhan bakteri\u00a0<em>L.<\/em>\u00a0<em>plantarum.<\/em><\/p>\n<p>  <!--more-->  <\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Lactobacillus plantarum\u00a0<\/em>IIA-1A5 merupakan jenis bakteri asam laktat yang mampu menggunakan nutrien\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>(terutama laktosa) untuk tumbuh kembangnya. Pemanfaatan\u00a0<em>Lactobacillus plantarum<\/em>\u00a0IIA-1A5 memerlukan suatu media sebagai tempat pertumbuhan mikroorganisme untuk memperbanyak jumlah. Karena media pertumbuhan bakteri pada umumnya berharga mahal, maka digunakan media alternatif dari\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>keju dan\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>dangke.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Whey\u00a0<\/em>keju merupakan hasil dari proses pasteurisasi susu segar, sedangkan\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>dangke berasal dari proses pemanasan susu segar yang kemudian dicampurkan dengan getah pepaya (enzim papain). Hasil yang didapatkan berupa\u00a0<em>curd\u00a0<\/em>yang menggumpal dan\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>yang larut.\u00a0<em>Curd\u00a0<\/em>disaring, sedangkan\u00a0<em>whey<\/em>\u00a0dapat diambil dan digunakan dalam pembuatan minuman fermentasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201c<em>Whey\u00a0<\/em>keju dan\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>dangke kami inokulasi dengan satu persen\u00a0<em>L. plantarum.<\/em>\u00a0Setelah itu, ditumbuhkan dalam inkubator pada suhu 37\u00a0derajat celcius. Kami amati setiap 0, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 jam. Selanjutnya, kami analisis pertumbuhan bakteri, uji fisik dan uji organoleptiknya. Nah, waktu optimal pertumbuhan bakteri yang ditemukan dari riset ini kemudian\u00a0\u00a0kami gunakan untuk standar pembuatan minuman fermentasi,\u201d ujar Ikhsan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu inkubasi pada jam ke-10 merupakan pertumbuhan optimal yang cocok digunakan sebagai minuman fermentasi.\u00a0<em>Whey\u00a0<\/em>keju merupakan media yang lebih baik dibandingkan\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>dangke. Pertumbuhan\u00a0<em>L. plantarum\u00a0<\/em>IIA-1A5 dalam media\u00a0<em>whey\u00a0<\/em>fermentasi mampu meningkatkan derajat keasaman, menurunkan nilai aktivitas air, dan meningkatkan nilai kekentalan produk. (ipb.ac.id)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Produksi keju di seluruh dunia umumnya menghasilkan\u00a0whey\u00a0dalam jumlah yang besar. Tidak kurang dari 50% total\u00a0whey\u00a0dari seluruh dunia diolah menjadi produk makanan dan minuman, sementara 50% lainnya terbuang menjadi limbah.\u00a0Whey\u00a0dianggap sebagai limbah dan tidak diproses sebagai produk turunan. Padahal\u00a0whey\u00a0memiliki nutrisi yang masih tinggi yaitu 55% dari total nutrisi susu. Walaupun\u00a0whey\u00a0merupakan produk samping, namun\u00a0whey\u00a0memiliki nilai nutrisi protein [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":542,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=543"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/543\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/iptp-fapet.ipb.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}